12 Hal yang Menyebabkan Timbunan Lemak di Perut

Tinggalkan beberapa kebiasaan buruk berikut agar terhindar dari timbunan lemak di perut anda.

Memiliki timbunan lemak di perut sangat tidak sehat. Hal ini dapat menyebabkan beberapa risiko penyakit seperti sindrom metabolisme, diabetes tipe 2, penyakit jantung, dan kanker.

Istilah medis untuk timbunan lemak di perut adalah lemak visceral, yang artinya lemak yang mengelilingi hati dan organ-organ lain di perut. Bahkan orang normal yang memiliki lemak lebih di perut dapat memiliki risiko masalah kesehatan juga.

Banyak orang ingin menghilangkan timbunan lemak di perut dengan cepat melalui diet ketat maupun operasi plastik yang hasilnya kebanyakan tidak permanen.

Meskipun tidak ada cara cepat untuk menghilangkan lemak-lemak di perut tersebut, ada beberapa gaya hidup yang perlu diubah untuk meningkatkan kesehatan, menjaga berat badan, dan tentunya menghilangkan timbunan lemak di perut.

Berikut merupakan 12 penyebab mengapa Anda memiliki timbunan lemak di perut:

Konsumsi gula berlebihan

gula berlebih

Banyak orang yang tidak menyadari bahwa mereka mengkonsumsi lebih banyak gula setiap hari tanpa mereka sadari. Makanan yang mengandung gula tinggi antara lain kue, permen, muffin, dan yogurt. Soda, minuman rasa kopi dan teh manis merupakan jenis minuman yang mengandung gula.

Konsumsi gula, resistansi terhadap insulin, dan bertambahnya timbunan lemak di perut merupakan tiga hal yang saling mempengaruhi. Tingginya kadar gula darah dapat menyebabkan resistansi terhadap insulin, sehingga konsumsi gula dalam diet Anda perlu dibatasi.

Berhenti mengkonsumsi soda dan makanan olahan yang mengandung gula merupakan langkah awal untuk menghilangkan timbunan lemak di perut. Minum cukup air putih dan mengkonsumsi makanan yang manis alami seperti buah-buahan.

Coba untuk mengurangi konsumsi jus buah karena kebanyakan hanya mengandung sedikit nutrisi yang diperlukan tubuh. Memakan buah secara langsung lebih sehat dan memberikan serat dan banyak nutrisi untuk tubuh.

Serta, perlu diingat bahwa rencana menurunkan berat badan yang baik adalah dengan tidak mengkonsumsi gula sama sekali.

Jarang berolahraga

Dalam beberapa tahun terakhir, banyak orang yang jarang berolahraga. Hal ini dapat meningkatkan risiko obesitas. Menurunkan berat badan, khususnya lemak di perut, tanpa berolahraga merupakan hal yang sulit apabila Anda ingin mempertahankannya untuk jangka waktu yang lama.

Memiliki otot yang kuat dapat lebih efisien dalam membakar lemak dan kalori di dalam tubuh. Apabila Anda dapat menurunkan berat badan tanpa berolahraga, artinya Anda kehilangan beberapa jaringan tubuh yang justru dapat menyebabkan turunnya metabolisme tubuh.

Lakukan olahraga sebanyak 3 hingga 5 kali seminggu selama minimum 30 menit.

Mengkonsumsi alkohol

konsumsi alkohol

Alkohol memiliki efek yang menyehatkan tapi juga bisa membahayakan. Apabila dikonsumsi dalam jumlah sedang, khususnya anggur merah, dapat menurunkan risiko serangan jantung dan stroke. Namun, apabila dikonsumsi dalam jumlah yang berlebihan justru dapat menyebabkan peradangan, penyakit jantung, dan masalah kesehatan lainnya. Kurangi konsumsi minuman beralkohol dengan maksimum 7 botol seminggu.

Diet rendah protein

Mendapatkan asupan protein yang cukup merupakan faktor penting untuk mencegah bertambahnya berat badan. Dengan menerapkan diet tinggi protein akan memberikan rasa kenyang yang bertahan lama, meningkatkan metabolisme tubuh, dan menyebabkan berkurangnya konsumsi kalori.

Sebaliknya, dengan diet rendah protein justru dapat menyebabkan timbunan lemak di perut dalam jangka waktu yang lama. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa mereka yang mengkonsumsi protein dalam jumlah yang dianjurkan kebanyakan memiliki perut yang tidak buncit.

Menopause

Timbunan lemak pada saat menopause sangat sering terjadi. Pada masa pubertas, hormon estrogen memberikan sinyal ke tubuh untuk menyimpan lemak pada pinggang dan paha untuk potensi kehamilan. Lemak ini tidak berbahaya bagi kesehatan, namun mungkin akan sulit untuk menghilangkannya.

Menopause biasanya terjadi setahun setelah seorang perempuan mendapatkan menstruasi terakhirnya. Dalam jangka waktu tersebut, level estrogen akan berkurang secara dramatis dan menyebabkan lemak tersimpan di dalam perut, bukan di pinggang maupun paha. Beberapa perempuan yang mungkin memiliki lebih banyak lemak di perut, dapat disebabkan oleh faktor genetika dan usia dimana mulainya menopause.

Sebuah penelitian bahkan menunjukkan bahwa perempuan yang mendapatkan menopause di usia yang lebih muda cenderung tidak memiliki risiko bertambahnya lemak di perut.

Makan berlebihan saat stress

Perempuan yang memiliki gejala depresi cenderung memiliki lemak perut ekstra, menurut penelitian yang dilakukan di University Medical Center. Depresi sangat berhubungan dengan berkurangnya aktivitas fisik dan kebiasaan makan yang buruk. Stres maupun depresi dapat menyebabkan makan yang berlebihan. Kelebihan kalori yang disimpan sebagai lemak tersebut tidak disalurkan ke seluruh tubuh, namun justru di simpan di dalam perut dan menyebabkan bertambahnya timbunan lemak.

Makan sebelum tidur

Tubuh umumnya mulai memperlambat semua sistem biologis ketika tidur. Sehingga, apabila Anda makan sesaat sebelum tidur, tubuh tidak akan memproses semua makanan tersebut secara efisien yang justru dapat menyebabkan timbunan lemak di tubuh. Makan di malam hari juga dapat menyebabkan kebiasaan makan yang buruk keesokan harinya, begitu juga apabila Anda melewatkan sarapan yang justru membuat Anda makan berlebihan.

Sebaiknya, berhenti makan 2 jam sebelum Anda memutuskan untuk tidur dan letakkan segelas air putih di samping tempat tidur untuk mencegah dorongan untuk makan saat haus.

Mengkonsumsi lemak trans

Lemak trans merupakan salah satu senyawa yang sangat tidak sehat. Lemak trans dibuat dengan menambahkan hidrogen pada lemak tak jenuh untuk membuat senyawa ini menjadi stabil. Lemak trans telah dibuktikan dapat menyebabkan inflamasi, yang merupakan penyebab terjadinya resistansi terhadap insulin, penyakit jantung, dan berbagai macam penyakit lainnya.

Lemak trans biasanya digunakan sebagai pengawet untuk makanan kemasan seperti muffin, kue-kue kering, dan makanan ringan.

Kurang tidur

Tidur yang cukup juga sangat berpengaruh bagi kesehatan. Banyak penelitian yang menunjukkan hubungan kurang tidur dan kenaikan berat badan, salah satunya timbunan lemak di perut. Mereka yang tidur selama 5 jam atau kurang memiliki risiko kenaikan berat badan 32% lebih besar dibandingkan dengan mereka yang tidur selama 7 jam sehari.

Mengkonsumsi produk jus buah-buahan

jus buah

Produk jus buah-buahan merupakan 100% jus buah yang mengandung banyak gula. Meskipun jus buah memiliki beberapa vitamin dan mineral, fruktosa yang dikandungnya akan menyebabkan resistansi terhadap insulin dan menyebabkan timbunan lemak di perut. Produk jus buah-buahan merupakan sumber kalori yang sangat mudah untuk dikonsumsi, namun juga tidak dapat membuat nafsu makan berkurang seperti halnya makanan padat.

Diet rendah serat

Serat sangat baik bagi kesehatan dan dapat mengendalikan berat badan. Beberapa jenis serat bahkan dapat membuat Anda merasa kenyang, menstabilisasi hormon lapar, dan mengurangi penyerapan kalori dari makanan yang dimakan. Diet rendah serat memiliki efek yang berkebalikan bagi nafsu makan dan bertambahnya berat badan, termasuk bertambahnya lemak di perut.

Sebuah penelitian menemukan bahwa makanan tinggi serat dapat membantu mengurangi timbunan lemak di perut.

Faktor genetik

Yang satu ini bukanlah sesuatu yang bisa anda ubah. Faktor genetik memiliki peran yang sangat penting dalam risiko obesitas. Pada penelitian yang dilakukan pada tahun 2014 menemukan tiga gen baru yang mempengaruhi kenaikan rasio pinggang dan pinggul dan timbunan lemak di perut, termasuk dua gen yang hanya ditemukan pada perempuan, yaitu gen untuk receptor yang mengatur kortisol dan gen yang memberikan kode pada receptor leptin untuk mengatur penyerapan kalori dan berat badan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here