Resistensi Insulin

2776

Insulin adalah hormon yang dihasilkan oleh sebuah sel di dalam pankreas (disebut sel beta), yang berfungsi untuk menyerap glukosa dalam aliran darah, dan mendistribusikannya ke sel-sel tubuh untuk digunakan sebagai energi.

Makanan yang masuk ke dalam tubuh akan diubah menjadi glukosa (gula darah) oleh sistem pencernaan, dan pankreas melepas hormon insulin untuk membantu mengedarkan glukosa ke sel-sel dalam tubuh untuk dijadikan sebagai sumber energi.

Dengan cara ini, insulin akan menjaga kadar gula dalam darah tetap pada level yang normal.

Apa itu Resistensi Insulin?

Resistensi insulin adalah kondisi dimana tubuh menjadi resisten (menolak/tidak mempan/tidak merespon) terhadap insulin, dan tidak dapat menggunakan glukosa dari darah sebagai energi.

Resistensi terhadap insulin dihubungkan pada banyak gangguan metabolisme tubuh dan penyakit, seperti diabetes (khususnya diabetes tipe 2), kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, dan penyakit jantung. Resistensi insulin biasanya telah terjadi jauh sebelum munculnya penyakit-penyakit tersebut.

Resistensi insulin dapat berkembang menjadi diabetes tipe 2

Resistensi insulin menyebabkan hormon insulin tidak dapat menjalankan fungsinya sebagaimana mestinya, yaitu mendistribusikan glukosa. Akibatnya glukosa semakin menumpuk di dalam aliran darah dan kadar gula darah semakin tinggi.

Hal ini akan menyebabkan pankreas melepas lebih banyak insulin sebagai upaya untuk menyeimbangkan gula darah, namun sebagian besar dari insulin tersebut tidak akan berfungsi efektif. Seiring waktu, glukosa dalam darah semakin meningkat dan terjadilah kondisi Pradiabetes.

Sampai di sini, belum ada gejala yang muncul. Jika pradiabetes tidak ditangani, kondisi ini akan berkembang menjadi diabetes tipe 2.

Gejala

Gejala resistensi insulin tidak dapat dirasakan. Pasien harus melakukan pemeriksaan darah dan laboratorium untuk mengukur kadar glukosa (gula darah).

Beberapa tanda resistensi insulin antara lain:

  • Ukurang pinggang di atas 100 cm pada pria, atau 90 cm pada wanita
  • Tekanan darah 130/80 atau lebih
  • Kadar glukosa puasa di atas 100 mg/dL
  • Kadar trigliserida puasa di atas 150 mg/dL
  • Level kolesterol HDL di bawah 40 mg/dL

Penyebab dan Faktor Risiko

Belum diketahui pasti penyebab resistensi insulin, namun para peneliti meyakini bahwa faktor genetik memegang peranan besar dalam perkembangan kondisi resistensi insulin, dan juga diabetes tipe 2. Di samping itu, pola hidup dan jenis obat-obatan tertentu bisa menjadi faktor pendukung terjadinya resistensi insulin.

Sebagai tambahan, resistensi terhadap insulin ditemukan terjadi pada kondisi-kondisi berikut:

Selain karena bawaan genetik, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan resiko terjadinya resistensi insulin, yaitu:

  • Faktor usia. Kasus resistensi insulin lebih sering terjadi pada orang dewasa berusia dia atas 40 tahun
  • Kondisi kesehatan tertentu. Beberapa kondisi tertentu dapat meningkatkan resiko resistensi insulin, di antaranya penyakit jantung, kolesterol tinggi, dan hipertensi.
  • Riwayat diabetes di keluarga. Resiko juga meningkat jika terdapat riwayat diabetes (khususnya diabetes tipe 2) pada orang tua atau keluarga dekat.
  • Obesitas, khususnya perut buncit. Berat badan berlebih dapat mengurangi sensitivitas tubuh terhadap insnulin, khususnya jika memiliki BMI (body mass index) diatas 30. Mengurangi berat badan dan menjalankan diet sehat dapat mengurangi resiko ini secara signifikan.
  • Gaya hidup tidak aktif, jarang berolahraga. Olahraga akan meningkatkan sensitivitas insulin. Orang yang sangat jarang berolahraga cenderung memiliki tubuh yang tidak sensitif terhadap fungsi insulin di dalam tubuh. Itu sebabnya olahraga juga termasuk dalam menu wajib pada penanganan diabetes, untuk merangsang tubuh mengurangi resistensi terhadap insulin.
  • Merokok. Kebiasaan merokok berdampak buruk terhadap sel dan jaringan dalam tubuh, sehingga meningkatkan risiko resistensi insulin.

Diagnosa dan Tes

Untuk mendiagnosa kondisi resistensi insulin, dokter akan melakukan hal berikut:

  • Interview. Dokter akan menyakan mengenai riwayat kesehatan keluarga dan gejala yang mungkin muncul.
  • Tes fisik. Dokter akan menimbang berat badan dan mengukur tekanan darah.
  • Tes darah. Tes yang dilakukan berupa:
    • Glukosa puasa. Kadar gula darah setelah berpuasa minimal 8 jam
    • Tes toleransi gula darah. Biasanya dilakukan dua jam setelah pemeriksaan glukosa puasa.
    • Tes HbA1c. Pemeriksaan untuk mengukur kada gula darah selama 2-3 bulan terakhir. Umumnya pemeriksaan ini dilakukan untuk diagnosa diabetes.

Cara Menangani dan Pencegahan

Anda bisa melakukan beberapa cara berikut untuk menangani resistensi insulin sekaligus mencegah terjadinya diabetes tipe 2:

  • Olahraga. Lakukan olahraga setidaknya 30 menit perhari. Olahraga akan merangsang sensitivitas sel-sel dalam tubuh terhadap insulin.
  • Menurunkan berat badan. Berat badan sangat mempengaruhi kondisi resistensi insulin. Konsultasikan dengan dokter atau ahli nutrisi mengenai berat badan yang ideal untuk Anda.
  • Terapkan pola makan sehat. Tingkatkan konsumsi buah, sayuran, kacang-kacangan, dan protein tanpa lemak.
Ikuti kami di Facebook dan Twitter untuk mendapatkan berbagai update mengenai kesehatan di sosial media.