Kanker Serviks

Kanker serviks, atau kanker leher rahim, merupakan suatu jenis kanker yang timbul di leher rahim yakni suatu organ kewanitaan yang lebih dalam dari liang vagina namun sebelum masuk ke dalam rahim. Leher atau mulut rahim merupakan salah satu organ kewanitaan dalam selain juga ovarium, rahim, dan indung telur.

Kanker serviks terjadi ketika sel-sel abnormal pada leher rahim tumbuh dan menyebar tanpa terkontrol. Serviks adalah bagian bawah rahim (leher rahim) yang membuka dan terhubung ke kemaluan wanita.

Kanker serviks, kedua terbanyak diderita wanita di dunia

Saat ini kanker leher rahim menduduki peringkat kedua di dunia sebagai kanker tersering pada wanita dan kejadian kanker tersebut lebih banyak terjadi di negara berkembang, tidak terkecuali di Indonesia. Meskipun begitu, berkat semakin maraknya penggunaan pap smear, banyak wanita yang sudah bisa terdeteksi adanya pra kanker atau juga kanker serviks stadium awal sehingga bisa segera ditangani oleh dokter dan mencegah kematian akibat kanker serviks.

Penyebab Kanker Serviks

Umumnya–lebih dari 99,5%–kanker serviks disebabkan oleh human papilloma virus atau HPV. Virus ini sangat mudah menyebar, baik melalui sentuhan, perpindahan cairan, atau menyentuh tempat yang telah terjangkit dengan virus ini. Namun yang paling umum adalah ketika seorang wanita melakukan hubungan seksual dengan orang yang memiliki virus HPV.

Ada banyak jenis virus HPV, dan tidak semuanya menyebabkan kanker serviks. Kebanyakan orang dewasa telah atau pernah terinfeksi virus HPV, namun infeksi virus ini bisa hilang dengan sendirinya. Tetapi terkadang infeksi virus ini bisa menyebabkan kutil pada daerah kelamin atau menyebabkan terjadinya ke kanker serviks.
kanker serviks rahim, penyebab dan gejala
Human papilloma virus (HPV) 16 dan 18 merupakan penyebab utama pada 70% kasus kanker serviks di dunia. Perjalanan dari infeksi HPV hingga menjadi kanker serviks memakan waktu yang cukup lama, yaitu sekitar 10 hingga 20 tahun. Namun proses penginfeksian ini sering tidak disadari oleh para penderita, karena proses HPV kemudian menjadi pra-kanker umumnya tidak menunjukkan gejala apapun.

Infeksi virus ini di sel-sel leher rahim akan mengawali proses kelainan pertumbuhan sel-sel sehingga sel-sel tersebut akan bertambah banyak tanpa terkendalidengan fungsi organ yang berbeda dari sebelumnya dan di akhir stadium kanker, sel dapat menyebar ke organ tubuh lain (disebut metastasis) dan tumbuh tidak terkendali disana sehingga merusak fungsi organ tersebut. Sifat-sifat tersebut merupakan ciri dari suatu sel kanker.

Itulah mengapa sangat penting bagi wanita melakukan tes PAP smear secara reguler untuk mendeteksi ketidaknormalan pada leher rahim lebih dini, sebelum mereka berubah menjadi kanker. Pada tes ini berlangsung, dokter akan mengorek sampel kecil dari sel-sel di permukaan leher rahim untuk melihat perubahan sel. Jika tes PAP menunjukkan perubahan yang abnormal, dokter akan melakukan tes lanjutan untuk mengetahui apakah perubahan tersebut berupa kanker atau dapat menyebabkan kanker di leher rahim.

Baca juga: Penyebab dan Faktor Resiko Kanker Serviks

Gejala Kanker Serviks

Gejala kanker rahim di stadium awal tidak begitu tampak bahkan wanita tersebut tidak akan merasakan gejala apapun dan terlihat sama seperti wanita normal lainnya.

Seiring berkembangnya stadium kanker, mulai tampak adanya gejala kanker leher rahim diantaranya:

  • Pendarahan tak normal pada vagina, misalnya di antara periode menstruasi, setelah berhubungan intim, atau setelah menopause.
  • Merasa sakit ketika berhubungan intim atau ketika buang air kecil.
  • Nyeri di perut bagian bawah atau panggul.
  • Keputihan yang tidak normal, misalnya berlebih atau bercampur darah.
  • Perubahan signifikan yang tak dapat dijelaskan pada siklus menstruasi.

Pada tahapan yang lebih lanjut, gejala yang mungkin timbul antara lain:

  • Anemia karena pendarahan berlebih pada kemaluan.
  • Sakit berkelanjutan pada panggul, punggung dan juga kaki.
  • Masalah urinasi/buang air kecil.
  • Berat badan turun drastis.

Melakukan screening dan tes sejak dini sangat berperan untuk mencegah kanker serviks. Di negara berkembang, penggunaan secara luas program pengamatan leher rahim mengurangi kasus kanker serviks yang invasif, yaitu sebesar 50% atau lebih.

Diagnosa Kanker Serviks

Pap smear merupakan langkah awal dari prosedur pemeriksaan kanker leher rahim –yang juga dipakai dalam deteksi dini kanker,– namun prosedur tersebut bukan sebagai penegak diagnosis.

Terdapat tes-tes lain yang perlu dilakukan untuk mendukung diagnosa, antara lain koloskopi, biospi dan beberapa pemeriksaan penunjang lainnya.

Stadium Kanker Serviks

Kanker serviks atau kanker leher rahim memiliki 4 stadium yakni stadium I, II, III, dan IV, dengan stadium IV sebagai stadium akhir. Bisa saja leher rahim belum terkena kanker tapi masih berupa perubahan pra kanker dengan karakteristik yang tidak seganas kanker namun bila tidak segera diangkat dapat berubah menjadi kanker. Penentuan stadium dilakukan oleh dokter berdasarkan hasil pemeriksaan secara klinis dan pemeriksaan penunjang seperti hasil biopsi.

Penanganan Kanker Serviks

Perawatan dan penanganan kanker serviks meliputi operasi pada kanker serviks stadium awal, dan kemoterapi serta radioterapi pada stadium yang lebih lanjut.

Tergantung pada seberapa jauh kanker telah berkembang, penderita mungkin akan satu atau lebih penanganan (kombinasi). Jika dilakukan hysterectomy (operasi pengangkatan rahim) pada penderita, maka penderita tak bisa lagi memiliki anak. Namun hysterectomy tidak selalu dibutuhkan, khususnya jika kanker ditemukan masih pada tahap sangat awal.

Berbagai sumber