Rasa percaya diri adalah kunci menuju kesuksesan, dan penting bagi orang tua untuk menanamkannya sejak kecil pada anak. Tentunya, yang dimaksudkan di sini bukanlah ego diri yang tinggi tetapi keyakinan yang besar pada kemampuan pribadi untuk mengendalikan diri, menghadapi tantangan, dan bersikap positif dalam kehidupan.

Seorang anak yang memiliki keyakinan diri akan berani mengambil resiko dalam hidupnya, berhasil dalam tujuannya, dan mencapai hal-hal besar lainnya.

Tips Membentuk Rasa Percaya Diri Anak

Rasa percaya diri dapat ditumbuhkan dalam diri anak secara perlahan dari waktu ke waktu, dengan trial and error.

Berikut adalah tips efektif untuk membentuk rasa percaya diri pada anak. Tetapi ingatlah bahwa sebagai teladan penting dalam proses tumbuh kembang anak, Anda juga harus melatih rasa percaya diri Anda terlebih dahulu.

1. Ajarkan tata krama

Meskipun tampak sepele di usia muda, tata krama yang baik akan membuat anak menjadi lebih berkarakter saat tumbuh dewasa. Sopan santun adalah karakteristik penting yang bisa menjadi dasar dalam membangun rasa percaya diri.

Mengajarkan cara yang benar dalam menyapa orang yang lebih tua, etika di meja makan, ataupun menghargai pendapat orang lain bisa menjadi bekal anak yang membedakannya dengan orang lain di masyarakat.

2. Berikan tanggung jawab yang sesuai

Memiliki tanggung jawab akan membuat anak merasa lebih berharga. Di samping itu, tanggung jawab juga akan melatih daya pikir dan mental anak, dan membentuk rasa percaya bahwa dirinya mampu menyelesaikan tugas dengan baik.

Berikan tugas rumah seperti merapikan kamar tidurnya sendiri setiap pagi atau mencuci piring makannya sendiri sehabis makan—apapun yang sesuai dengan usianya.

Biarkan anak Anda sedikit membantu dalam mengerjakan tugas rumah tanpa mengoreksi atau memarahinya di setiap kesempatan.

3. Sediakan ruang untuk menentukan pilihan

Untuk membentuk rasa percaya diri, anak membutuhkan ruang untuk menentukan pilihan, mengambil resiko, dan bertanggung jawab atas pilihan yang ia buat.

Ini bisa dimulai dari hal kecil, misalnya membiarkan anak Anda mengambil sendiri nasi ke piringnya dengan terlebih dahulu memberi tahunya bahwa ia harus menghabiskan semua makanan yang ada piringnya.

Atau mengijinkan anak Anda untuk bermain ayunan di lapangan meskipun Anda mengkhawatirkan keamanannya. Ini bukan berarti Anda melepaskan pengawasan atas diri mereka, tetapi Anda harus menahan diri karena pilihan yang mereka ambil mungkin bukanlah yang terbaik dan tidak sesuai dengan cara Anda.

Rekomendasi:  10 Makanan untuk Meningkatkan Produksi ASI

4. Jangan tawarkan jawaban

Jika anak Anda mengajukan pertanyaan, jangan hanya menjawabnya tanpa pikir panjang. Berikan kesempatan bagi anak untuk memahami hal secara lebih dalam dan memecahkan masalahnya sendiri tanpa banyak bantuan dari Anda. Beri panduan atau contoh pada anak Anda, tetapi biarkan dirinya sendiri yang menyelesaikan permasalahan tersebut.

Ini akan membantunya belajar untuk tidak hanya bergantung pada orang lain dan melatihnya untuk lebih memercayai dirinya sendiri.

Misalnya, jika anak Anda bertanya bagaimana cara merakit mobil mainannya, Anda bisa memintanya untuk membaca kertas petunjuk yang tersedia dan sedikit membantunya dalam memahami langkah panduan, tetapi biarkan dia sendiri yang merakit mainannya.

5. Rayakan keberhasilan

Jika anak Anda mencapai kesuksesan dalam hal apapun, tunjukkan bahwa itu merupakan suatu pencapaian berharga dan rayakanlah keberhasilannya.

Ini penting untuk membuatnya menyadari bahwa kerja kerasnya tidak percuma sehingga membuatnya lebih yakin pada kemampuan dirinya dan bersyukur atas hasil yang didapatnya.

Dengan merayakan keberhasilan yang meskipun tidak seberapa, Anda mengijinkan anak untuk memberikan penghargaan terhadap dirinya sendiri.

6. Jangan memanipulasi kegagalan

Jangan menjadi orang tua yang terlalu melindungi sehingga anak tidak mengenal arti kegagalan, atau terlalu menuntut sehingga anak tidak mengenal keberhasilan. Jika anak Anda berhasil menyelesaikan tugas, jangan sengaja mencari kesalahan demi alasan dia bisa bekerja dengan lebih baik lagi.

Namun, jika ia memang tidak bisa menyelesaikan tanggung jawabnya, jangan menutup mata pada kegagalannya demi alasan dia belum tahu/bisa mengerjakannya.

Cara yang anak tempuh mungkin bukanlah cara terbaik yang sesuai dengan gaya Anda, tetapi yang penting adalah ia berproses, bahwa ia telah mencoba menjalankan tanggung jawabnya meskipun tidak sempurna.

7. Puji atau tegur anak secara wajar

Terkadang, anak membutuhkan pengakuan dari orang tua untuk menambah nilai dirinya. Memuji anak memang dibutuhkan, tetapi dengan alasan yang jelas dan secara wajar.

Pada dasarnya, ini juga berlaku dalam persoalan menegur anak. Katakan dengan jelas alasan di balik pujian atau teguran tersebut, fokus pujian dan teguran sebaiknya bukan pada keberhasilan atau kegagalan itu sendiri, tetapi lebih pada sikapnya dalam berproses dan menanggapai hasil yang ia capai.

memuji anak, membangun percaya diri
Beri pujian pada anak setelah ia menyelesaikan tugas [image: pixabay]

Selain itu, terlalu banyak memuji atau menegur anak juga akan berbalik menyerang karena semua hal yang berlebihan hanya akan memberikan dampak buruk.

Rekomendasi:  Hambatan dan Kekhawatiran Ibu tentang Menyusui, dan Tips Mengatasinya

8. Ijinkan anak untuk berekspresi

Beberapa anak cendrung memilih untuk menghibur diri dengan membaca buku atau bermain sendiri di kamarnya, tetapi yang lain suka mengungkapkan perasaannya secara terbuka. Beri tahu anak Anda bahwa ia bisa datang pada Anda setiap saat dan bahwa ia boleh membagi semua perasaannya.

Ada kalanya anak Anda akan merasa frustasi dan percaya dirinya jauh berkurang, tetapi Anda bisa membuatnya merasa lebih baik dengan mengatakan bahwa ia berhak merasa buruk, bahwa Anda juga menyesal terhadap apa yang dialaminya, dan bahwa ia memiliki kemampuan untuk bangkit dan berjuang kembali.

Dengarkan keluh kesahnya, dan tawarkan saran yang sesuai jika ia membutuhkannya.

9. Hilangkan label

Label pada anak cendrung sulit untuk dihilangkan dan bisa menjadi batasan dirinya untuk selamanya. Anak Anda akan bisa merasa lebih percaya diri jika tidak ada label tertentu yang melekat pada jati dirinya. Misalnya, meskipun anak Anda memiliki asma, jangan biarkan satu ciri tersebut mewakili dirinya sepenuhnya.

Dengan pemikiran bahwa dirinya mengidap gangguan napas, anak Anda akan membatasi kegiatan dan mimpinya, dan menjadikan penyakitnya sebagai pusat hidupnya. Ia tidak akan percaya diri untuk bermimpi menjadi penyanyi, misalnya, atau berlari-larian untuk waktu yang lama bersama teman seusianya.

Dalam kasus ini, ada dua masalah yang harus ditangani, yaitu asma itu sendiri, dan sikap anak Anda (ataupun keluarga) terhadap gangguan tersebut.

Bahkan, terkadang ada anak yang salah menghubungkan rasa percaya dirinya dengan label dirinya yang tidak sehat.

10. Fokuslah pada usahanya, bukan hanya pada hasil

Anak yang memiliki percaya diri adalah mereka yang tahu batas kemampuannya dan menghargai usaha sendiri dalam melakukan suatu hal. Mereka masih bisa menyayangi diri sendiri di saat kegagalan menimpa dan percaya bahwa mereka bisa bangkit dan berjuang kembali.

Inilah yang harus Anda jelaskan pada anak, bahwa hasil merupakan faktor penting, tetapi bukanlah segalanya.

Selama ia mengupayakan yang terbaik, biarkan sang anak tahu bahwa Anda bangga padanya terlepas dari hasil yang didapat.

Latihlah anak Anda menjadi pribadi yang tidak melekatkan nilai dirinya pada hasil semata, tetapi lebih kepada usaha dan proses yang dijalani untuk meraih hasil tersebut.

Ikuti kami di Facebook dan Twitter untuk mendapatkan berbagai update mengenai kesehatan di sosial media.