Studi: Penyebab Migrain Berasal dari Dalam Otak

0

Penelitian terbaru telah menemukan bahwa penyebab migrain berasal dari dalam otak seseorang. Hasil temuan ini sangat membantu dalam usaha pencegahan timbulnya migrain dan bagaimana cara mengatasinya.

Sebelum hasil penelitian terbaru ini keluar, para peneliti menduga penyebab migrain adalah pembesaran pembuluh darah di otak, dan oleh karenanya obat yang digunakan untuk migrain dimaksudkan untuk memperkecil pembuluh darah yang ada otak.

Dalam penelitian tersebut, peneliti melihat efek dari dua molekul mirip protein yang diduga menyebabkan pembuluh darah melebar dan meningkatkan aliran darah, yaitu PACAP dan VIP.

Kemudian, kedua molekul tersebut disuntikkan langsung ke dalam sel-sel otak tikus, dan hasilnya PACAP membuat neuron dalam otak tidak bekerja dengan normal, dan menunjukkan gejala migrain pada hewan satu jam kemudian. Sedangkan, VIP tidak memberikan reaksi yang sama.

PACAP dan VIP memang benar dapat menyebabkan pembesaran pembuluh darah, namun efek tersebut hanya berlangsung selama 10 menit. Sehingga peneliti menduga, penyebab migrain bukan karena pembuluh darah, namun dari dalam otak itu sendiri.

“Mengetahui penyebab migrain berasal merupakan kuncinya,” kata Debby Hay dari University of Auckland, New Zealand. “Saat ini, banyak perbincangan tentang mekanisme migrain. Bila kita sudah mengetahui penyebabnya, maka kesempatan untuk mencegahnya pun akan lebih besar,” lanjutnya.

Untuk menemukan pengobatan migrain yang tepat, masih berdasarkan penelitian yang sama, membutuhkan proses yang panjang. Meskipun otak tikus dan otak manusia memiliki banyak kemiripan, belum tentu molekul-molekul tersebut memberikan respon yang sama terhadap otak manusia seperti yang terjadi pada tikus.

Migrain adalah gangguan neurologis yang ditandai dengan timbulnya rasa sakit di bagian kepala. Migrain dapat dimulai secara tiba-tiba, dilanjutkan dengan perasaan tidak enak dan sakit luar biasa, dan biasanya menyerang di sebelah bagian kepala.

Pemicu migrain sangat beragam, bisa dari makanan, lingkungan, maupun stres. Efek dari pemicu tersebut pun berbeda pada setiap orang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here